Oleh: Hisyam Basyeban | 18 Desember 2006

Hasrat Yang Tersembunyi

Oleh:

AUDIFAX

(Penulis buku “Imagining Lara Croft”, 2006, Jalasutra)

Ada sebuah ‘kebetulan’ yang saya rasa bukan kebetulan dan menjadi berita hangat di penghujung 2006 ini. Apalagi kalau bukan soal pernikahan kedua Aa Gym dan terbongkarnya skandal seks anggota DPR dengan seorang penyanyi dangdut. Tak urung, meski kedua peristiwa itu merupakan wilayah personal seseorang, tetapi karena ‘modal simbolik’ dan ‘modal kultural’ yang dimiliki kedua orang itu, terutama Aa Gym, persoalan itupun lantas menjadi persoalan publik. Banyak orang yang—entah sadar atau tidak bahwa itu bukan persoalannya— mengambil persoalan (terutama persoalan Aa Gym) menjadi persoalan pribadinya. Apa yang bagi saya menarik di sini, kenapa orang begitu berhasrat untuk mempersoalkan sesuatu yang sebenarnya merupakan wilayah pribadi seseorang?

Bahkan persoalan yang sebenarnya merupakan wilayah pribadi Aa Gym dan Yahya Zaini (serta orang-orang terdekat yang terlibat langsung dengan keduanya) sampai bisa diambil pula oleh presiden sebagai persoalan negara. Pagi ini, di harian Pikiran Rakyat (Minggu, 10 Desember 2006), halaman depan bagian Geulis (bacaan khusus perempuan) bahkan membahas khusus masalah poligami. Nah, di sinilah menariknya bagi saya, terutama menyimak pendapat Marissa Haque, yang saya rasa juga merupakan pendapat yang banyak dikeluarkan oleh berbagai kalangan (terutama perempuan) di berbagai media. Umumnya pendapat itu bertema “Rasa kasihan terhadap Teh Ninih, istri Aa Gym selama ini.

Marissa mengomentari SBY yang ‘terinspirasi’ oleh Aa Gym untuk merevisi UU tentang poligami demikian: “Dengan ikut membaca kegelisahan yang terjadi di masyarakat, berarti secara tidak langsung SBY memberi perlindungan bagi kaum perempuan dalam menjaga ketentramannya di masyarakat”. Seakan membenarkan pernyataan tersebut, Marissa kemudian menggambarkan bahwa meski Teh Ninih mengatakan tengah belajar ikhlas, tetapi ekspresi Teh Ninih menyiratkan adanya senyum penderitaan. Di sinilah saya mulai tertarik. Apa yang diucapkan Marissa itu hanyalah satu dari banyak ucapan senada.

Lalu sayapun mencoba berpikir. Kenapa justru banyak yang kasihan pada Teh Ninih, kenapa bukan kasihan pada Sharmila, istri Yahya Zaini itu? Mana yang lebih menyakitkan antara melihat suami menikahi secara sah istri kedua dengan ‘nonton bareng’ momen ketika suaminya berselingkuh? Aku pikir Teh Ninih justru mendapatkan keberhargaan dirinya sebagai perempuan ketika ia mampu menghadapi (entah apapun yang ada di hatinya) pernikahan kedua suaminya, tetapi bagaimana keberhargaan diri seorang Sharmila ketika ia justru mendapat tantangan dari Maria Eva yang mengatakan ia tak mau dijadikan istri kedua?

Jujur saja saya jadi ragu dengan semua yang mengatasnamakan pembelaan perempuan dengan menempatkan Teh Ninih sebagai konteks. Terutama ketika membaca ucapan Marissa yang mengatakan bahwa poligami adalah pilihan bagi seseorang, namun menjadi masalah ketika itu dilakukan Aa Gym yang notabene adalah tokoh nasional (lha apa Yahya Zaini bukan tokoh nasional?) yang tentu sudah menjadi panutan yang kadang diikuti apa yang dilakukannya. Lebih ragu lagi ketika di penutup saya membaca ungkapan Marissa yang menyatakan ketaksetujuan terhadap poligami: “Saya mendambakan dalam keluarga itu yang terjadi adalah keberadaan satu istri, satu suami sampai mati. Kalau keluar dari apa yang digariskan ini, saya yakin banyak yang tersakiti, enggak perlu diperpanjang pun sudah bisa dibayangkan siapa dan apa dampak yang akan terjadi bila hal itu dilakukan dan terjadi pada sebuah keluarga”.

Nah, lalu sebenarnya masalahnya ada di Aa Gym, kasihan pada Teh Ninih atau ketakutan bila suaminya sendiri melakukan poligami? Dari kata-kata kunci seperti “panutan”, “tokoh nasional”, “saya mendambakan. .” bisa terlihat bahwa persoalannya adalah kecemasan para perempuan ini jika mengalami dipoligami. Jadi sama sekali bukan sebuah solidaritas pada Teh Ninih. Mungkin buat Marissa akan lebih tulus jika dia berkata saja: “Saya takut Ikang kawin lagi”, ketimbang berputar-putar membicarakan orang lain yang sebenarnya tidak diketahui benar perasaannya. Hal yang sama juga pada semua yang berputar-putar bicara keprihatinan pada Teh Ninih. Dalam psikoanalisa, ini adalah sebuah bentuk mekanisme pertahanan diri untuk menyamarkan hasrat yang sebenarnya. Mirip cowok yang naksir cewek tapi tidak berani mengutarakan, yang biasanya lalu justru membuat gosip kalau teman cowoknya yang lain yang naksir cewek tersebut. Pada dasarnya ini merupakan ketakasertivan untuk menghadapi sebuah ketakpastian hidup. Ketakpastian apa? Ketakpastian bahwa mungkin saja laki-laki yang menjadi pasangan ‘meneladani’ Aa Gym dan menjadikannya argumen untuk berpoligami.

Hasrat-hasrat yang tersamar semacam ini, menjadi pelik ketika semakin disamarkan sehingga jauh dari persoalan sebenarnya, yaitu ketakutan diri sendiri mengalami dipoligami. Dan ketakutan semacam ini, sebenarnya personal karena berhubungan dengan sejauh mana seorang perempuan mengenal laki-laki yang menjadi pasangannya dan sejauh mana laki-laki ini berpotensi untuk poligami. Tetapi tak urung maslaah yang personal ini malah membuat orang lain yang sebenarnya tak ada urusannya dengan ketakutan pribadi ini, turut tertekan, misalnya Teh Ninih atau Alfarini yang menjadi istri kedua Aa Gym. Menjadi lebih rumit dan jauh dari masalah ketika sejumlah ‘tokoh perempuan’ mengangkat masalah ini dengan mengatasnamakan “perempuan”. Perempuan yang mana dulu? Apa bukan dengan mentotalisasi nama demi nama ke dalam sebuah nama phallosentrik “perempuan” justru perjuangan mengatasnamakan perempuan ini menjadi sangat patriarkis?

Lebih rumit lagi ketika muncul statement-statement tak berdasar seperti dikeluarkan Meutia Hatta yang mengatakan bahwa polemik poligami ini muncul karena pada dasarnya budaya di masyarakat kita adalah monogami. Budaya masyarakat yang mana? Di desa-desa kecil, seperti di daerah Madura salah satunya, di sana budayanya poligami. Di suku-suku seperti di Papua, di sana juga budayanya poligami, seorang kepala suku bisa punya lebih dari satu istri. Raja-raja di kerajaan-kerajaan nusantara juga menunjukkan kalau para raja itu beristri lebih satu plus selir-selirnya. Belum terhitung para pejabat dan orang-orang yang punya istri simpanan. Dan jangan lupa, founding father negeri bernama Indonesia ini, Soekarno, adalah juga penganut budaya poligami. Jadi pernyataan budaya masyarakat kita adalah monogami itu sama sekali tidak menyelesaikan persoalan tetapi justru menyamarkan dalam sebuah statement yang tidak jelas rujukannya.

Apa yang mau saya sampaikan di sini? Sebelum merasa menjadi orang pertama yang layak ‘melempar batu’ kepada sang pendosa, lebih baik kenalilah terlebih dulu apa sebenarnya hasrat yang tersembunyi di dalam diri anda. Jangan-jangan persoalannya bukan berada di luar sana, tetapi justru di dalam diri sendiri. Bukankah Rene Descartes pernah berkata bahwa “Aku berpikir maka aku Ada”? Jangan-jangan adanya “persoalan” itupun justru hanya di dalam diriku sendiri yang tengah berpikir. Lebih parah lagi, jangan-jangan persoalan yang ada dalam diriku inipun kutolak keberadaannya dan kutempatkan sebagai persoalan Liyan? Ok. Now, better you start sniffin’ your own!

© Audifax – 10 Desember 2006


Beri tanggapan

Your response:

Kategori