Rambut lurus hitam mengkilat, tinggi, langsing, dan kulit putih? Itu gambaran yang membuat Resa (25 tahun) kesal. Menurut wanita berkacamata ini, itulah gambaran cantik di kalangan teman-temannya. “Itu kan tipe cantik di kalangan kita,” sesal Resa.
Jadi dengan tubuh setinggi 150 sentimeter dan rambut ikal, Resa merasa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya. Ia pun rela menghabiskan waktu seharian untuk meluruskan rambutnya dengan rebonding. Atau ia selalu memilih sepatu berhak tinggi agar bisa mendongkrak tinggi tubuhnya. Resa mungkin tidak sendirian. Kita pun mungkin termasuk orang yang kurang puas terhadap bagian tertentu tubuh kita. Inilah yang disebut Maria Hutchinson sebagai citra “tubuh”. Menurut penulis Transforming Body Image ini, citra tubuh kita dibentuk dari setiap pengalaman yang berasal dari orang tua, tokoh idola, dan teman bergaul yang memberi gambaran mengenai sosok seperti apa yang disukai.
Lebih jauh lagi, Hutchinson mengatakan, tanggapan dari orang lain terhadap kitalah yang kemudian mempengaruhi penilaian terhadap diri sendiri. Sayangnya, begitu banyak wanita yang memiliki penilaian buruk terhadap tubuhnya sendiri dan “lupa” pada potensi lain yang dimilikinya. Resa, misalnya, ia tak menyadari bahwa kecemerlangan studinya membuat orang lain kagum. Sudah lulus sarjana dengan predikat cum laude pada usia 22 tahun, ia langsung ngebut melanjutkan ke program S2. Jangan lupa dengan kemampuannya bercas-cis-cus bahasa Inggris dan Prancis.
James Rosen, PhD dari University of Vermont, melakukan serangkaian penelitian mengenai wanita. Hasilnya menyebutkan, ‘bagian tubuh yang paling tidak memuaskan wanita umumnya antara pinggang dan lutut.’ Industri kosmetik, kata Rosen, banyak berperan dalam membentuk citra ini. Tanpa sadar, kita seolah dituntun untuk menilai, seperti apa kriteria cantik. Di televisi kita, iklan shampo biasanya menampilkan rambut yang lurus tergerai. Paling cuma beberapa iklan saja yang menawarkan alternatif berbeda, misalnya untuk si rambut ikal atau mereka yang berjilbab.
Situs betterhealth menyebutkan sejumlah faktor yang membentuk citra kita pada diri sendiri. Beberapa di antaranya adalah;
- Pernah diejek saat anak-anak
- Saat tumbuh kembang, si anak menyaksikan orang tuanya tengah menjalani diet ketat atau merasa tidak puas dengan tubuhnya. Sikap ini dapat ditularkan pada si anak.
- Tekanan dari kawan-kawan saat usia belasan tahun, agar langsing.
- Kecenderungan budaya yang terbiasa menilai seseorang dari penampilannya.
- Iklan “menyesatkan” yang memperkenalkan standar “ideal” pada pemirsa. Kini di dunia barat pun telah hadir sejumlah gerakan menentang standar “langsing” seperti para model. Mereka bahkan menggelar kampanye “feed the models” atau gerakan anti-Barbie, boneka cantik dan super langsing yang banyak digandrungi anak-anak wanita.
Bahkan pada tingkat yang lebih parah, rasa tidak puas terhadap tubuhnya bisa membuat minder. Kata Rosen, bahkan pada sejumlah orang, rasa tiak puas ini mempengaruhi kemampuan mereka terhadap menjalin hubungan dengan orang lain. Ada pula yang orang yang sulit ikut dalam aktivitas yang mereka sukai, gara-gara minder.
Obsesi untuk diet ini dapat mengarah pada masalah kejiwaan. Salah satunya adalah sindrom anorexia nervosa. Si penderita selalu merasa gemuk, meski ia sebenarnya terhitung kurus. Ia rela membiarkan dirinya kelaparan dan merasa bersalah setiap menyantap makanan. Sederet gangguan fisik pun akan datang, misalnya gangguan tidur, komplikasi fisik, lemas, gangguan pada cairan tubuh, anemia, pusing, osteoporosis dini, sembelit, haid tidak teratur, dan kemandulan.
Masih seputar kelangsingan, hasil penelitian di AS menunjukkan gejala mengejutkan. sekitar 42 persen murid sekolah dasar antara kelas 1 hingga 3 ternyata ingin diri mereka lebih langsing. Bahkan 80 persen dari anak-anak berusia sepuluh tahun khawatir menjadi gemuk. Hal ini mengingatkan pada keluh- kesah seorang ibu. Ia mengeluh, putrinya, Nani (7,5 tahun), kini kerap tak menghabiskan bekal makan siangnya. Alasannya?
“Nggak ah Bu, aku takut gemuk!,” jawab si anak.
Sedemikian hebatkah menjadi langsing?













Salam,
Saya nak citer, sebelum ini i cuba utk menurukan berat badan bermacam-macam cara sampaikan 2 bulan saya tak makan nasi tapi berat badan saya tak turun juga dan secara tak langsung saya mendapat penyakit. tapi dengan mengambil program melangsikan bandan tanpa berpantang saya merasa seronok sekali sebab boleh makan kegemaran saya secara tak langsung penyakit yang saya ada kembali nutral..
Oleh: pia24 on 23 Maret 2009
at 6:32 pm